Saturday, June 22, 2013

Mengenal Lebih Dekat Seorang Wanita

Memang tidak ada yang mengetahui apa isi hati setiap wanita. Apalagi isi hati kaum perempuan terkadang sulit untuk diterka. Terkadang ingin A tapi besoknya bisa berubah jadi B. Bagaimana dengan rahasia-rahasia wanita yang ada dalam hati, berikut rahasianya :

bunga-ungu-malam

Bila seorang wanita mengatakan dia sedang bersedih,tetapi dia tidak meneteskan airmata,itu berarti dia sedang menangis di dalam hatinya.

Bila dia tidak menghiraukan kamu setelah kamu menyakiti hatinya,lebih baik kamu beri dia waktu untuk menenangkan hatinya sebelum kamu menegur dengan ucapan maaf.

Wanita sulit untuk mencari sesuatu yang dia benci tentang orang yang paling dia sayang (karena itu banyak wanita yang patah hati bila hubungannya putus di tengah jalan).

Jika sorang wanita jatuh cinta dengan seorang lelaki,lelaki itu akan sentiasa ada di pikirannya walaupun ketika dia sedang dengan lelaki lain.

Bila lelaki yang dia cintai merenung tajam ke dalam matanya,dia akan cair seperti coklat!!

Wanita memang menyukai pujian tetapi selalu tidak tahu cara menerima pujian.

Jika kamu tidak suka dengan gadis yang menyukai kamu setengah mati,tolak cintanya dengan lembut,jangan kasar karena ada satu semangat dalam diri wanita yang kamu tak akan tahu bila dia telah membuat keputusan,dia akan melakukan apa saja.

Jika seorang gadis sedang menjauhkan diri darimu setelah kamu tolak cintanya,biarkan dia untuk seketika.Jika kamu masih ingin menganggap dia seorang kawan,cobalah tegur dia perlahan-lahan.

Wanita suka meluahkan apa yang mereka rasa Musik, puisi, lukisan dan tulisan adalah cara termudah mereka meluahkan isi hati mereka.

muslimah2

Jangan sesekali beritahu kepada perempuan tentang apa yang membuat mereka langsung merasa tak berguna.

Bersikap terlalu serius bisa mematikan mood wanita.

Bila pertama kali lelaki yang dicintainya sedang diam memberikan respon positif,misalnya menghubunginya melalui telepon,si gadis akan bersikap acuh tak acuh seolah-olah tidak berminat,tetapi sebenarnya dia akan berteriak senang dan tak sampai sepuluh minit,semua teman-temannya akan tahu berita tersebut.

Sebuah senyuman memberi seribu arti bagi wanita.Jadi jangan senyum sembarangan kepada wanita.

Jika kamu menyukai sorang wanita, mulailah dengan persahabatan.Kemudian biarkan dia mengenalmu lebih dalam.

Jika sorang wanita memberi seribu satu alasan setiap kali kamu ajak keluar,tinggalkan dia karena dia memang tak berminat denganmu.

Tetapi jika dalam waktu yang sama dia menghubungimu atau menunggu panggilan darimu,teruskan usahamu untuk memikatnya.

Jangan sesekali menebak apa yang dirasakannya.Tanya dia sendiri!!

Setelah sorang gadis jatuh cinta,dia akan sering bertanya-tanya mengapa aku tak bertemu lelaki ini lebih awal.

Kalau kamu masih mencari-cari cara yang paling romantis untuk memikat hati sorang gadis,bacalah buku-buku cinta.

Bila setiap kali melihat foto bersama,yang pertama dicari oleh wanita ialah siapa yang berdiri di sebelah buah hatinya,kemudian barulah dirinya sendiri.

Mantan pacarnya akan selalu ada di pikirannya tetapi lelaki yang dicintainya sekarang akan berada di tempat teristimewa di hatinya!!

Satu ucapan ‘Hi’ saja sudah cukup menceriakan harinya.

Teman baiknya saja yang tahu apa yang sedang dia rasa dan lalui.

Wanita paling benci lelaki yang berbaik-baik dengan mereka semata-mata untuk menggaet kawan mereka yang paling cantik.

Cinta berarti kesetiaan, jujur dan kebahagiaan tanpa syarat.

Semua wanita menginginkan seorang lelaki yang dicintainya dengan sepenuh hati.

Senjata wanita adalah airmata!!

Wanita suka jika sesekali orang yang disayanginya memberi surprise buatnya (hadiah, bunga atau sekadar kata-kata romantis).Mereka akan terharu dan merasakan bahwa dirinya dicintai setulus hati.Dengan ini dia tak akan ragu-ragu terhadapmu.

Wanita mudah jatuh hati pada lelaki yang perhatian padanya dan baik terhadapnya.So,kalau mau memikat wanita pandai-pandailah..

Sebenarnya mudah mengambil hati wanita kerena apa yang dia mau hanyalah perasaan dicintai dan disayangi sepenuh jiwa.

Sumber : Yahoo Article

Look At The Sky

Hujan_

meninggalkan suasana senja di tengah kesendirian

 

secercah harapan dari kehidupan

membuat suasana mengharuskan aku berpikir

penuh kebingungan

penuh kebimbangan

kenapa saya harus dihadapkan suasana seperti ini terus

 

tak ada perasaan senang

tak ada perasaan suka

tak ada perasaan bahagia

masih belum bergerak menemukan arah

entah apa yang kurasakan

 

berjalan di lantai luar atas rumah

memegang dinginya pagar besi

penuh bekas rintikan air

sekilas angin yang menerpa yang terasa hampa

ku hanya bisa memandang ke atas langit

 

Look at The Sky

Kegagalan yang sedang ku_alami

Menjadikanku Kuat__

 

Aku Bersyukur

Terima Kasih Tuhan

Atas Segala Anugerah Yang Telah Engkau Berikan_

Aku Hanya Berharap Aku Bisa mnejadi Berharga Bagi Semua Orang Yang Menyayangiku

 

Bandung, 01 Oktober 2011

Sejarah Suku Sunda


Nama Sunda mulai disebut-sebut setelah kerajaan Tarumanegara pecah menjadi 2 yaitu Galuh dan Sunda. Dalam perkembangannya kemudian Galuh dan Sunda bisa dipersatukan lagi dan membentuk kerajaan Sunda Galuh atau disebut Sunda saja. Pusat kerajaan Sunda ini dikenal dengan nama Pakuan Pajajaran atau kota Pajajaran yang kurang lebih terletak di Bogor sekarang. Jadi berdasarkan sejarah istilah Sunda sebenarnya bukan merujuk kepada nama suku ataupun bahasa tapi nama bekas kerajaan yang sangat berpengaruh terutama di Pilau Jawa sebelah Barat. 

Nama Jawa mulai dikenal dari Java dvipa yaitu nama julukan untuk P Jawa pada jaman awal ketika pengaruh budaya india dan kepercayaan Hindu-Budha mulai masuk ke Sumatera, Jawa dan Kalimantan mempengaruhi budaya/peradaban lokal menumbuhkan kerajaan Tarumanegara, Kutai dan Srivijaya serta kerajaan Hindu-Budha kecil lainnya. Tanah Jawa pada jaman ini dikenal dengan julukan Java Dvipa (pulau padi) dan Sumatera pula dijuluki Svarna dvipa (pulau emas). Sebagai daratan tanah Jawa disebut juga Javabhumi (Bumi Jawa) dan Sumatera disebut Svarnabhumi (land of the gold). Sekarang nama Svarnabhumi menjadi nama lapangan terbang International Bangkok. Kata Jawa didopsi dari nama Java dari bahasa sangsakerta (india kuno) yang merujuk kepada padi karena pulau ini sangat subur ditumbuhi padi dan padi adalah sejenis tanaman java di India (barley dalam Inggris). Jadi nama Jawa pada mulanya tidak ada kaitannya dengan suku atau bahasa Jawa sekarang ini sebagaimana nama Sunda tidak ada kaitannya dengan suku atau bahasa jawa. 

Muncul pertanyaan siapa itu orang sunda dan siapa orang jawa? Baik orang Sunda maupun orang Jawa dua-duanya adalah orang Jawa. Dari sejarah kerajaan-kerajaan kuno di P Jawa hampir tidak terlihat batas dan jarak untuk membedakan mana orang jawa dan mana orang sunda. Kalau dijaman sekarang hubungan Jawa-Sunda sering dianggap sebagai dua suku yang sama sekali berbeda bagai minyak dan air dan hubungannya renggang secara historis akibat sejarah lama yang dikait-kaitkan dengan warisan luka perang Bubat akibat kegagalan perkawinan Raja Majapahit (hayam Wuruk) dan putri raja Pajajaran (Dyah Pitaloka), sebetulnya itu kaitan yang tidak mencerminkan hubungan Sunda-jawa secara utuh dan menyeluruh dalam rentang kurun sejarah yang panjang. Jauh sebelum peristiwa Bubat muncul, sejarah banyak mengindikasikan bahwa sama sekali tidak ada penghalang hubungan antara Jawa dan Sunda karena pada dasarnya mereka lebih memiliki banyak kesamaan dan kemiripan akar budaya, kepercayaan, tradisi, genetik dan bahkan bahasa. Baik orang Sunda maupun orang jawa mereka tidak pernah mengangap asing satu dengan lainnya. Pertalian kekerabatan antara kerajaan Jawa dan sunda juga terjalin kuat sejak sejarah kerajaan di Jawa muncul dip eta sejarah. 

Sebut saja Ketika Tarumanegara pecah maka kerajaan Kalingga dari Jawa Tengah (terkenal dengan Ratu Shima) menengahinya sehingga Tarumanegara dibelah dua secara damai menjadi Sunda dan Galuh. Ini karena keluarga diraja Kalingga memiliki hubungan keluarga dengan keturunan diraja Tarumanegara yang berkuasa di Galuh. Berdasarkan sejarah, Sanjaya (pendiri Wangsa Sanjaya – Mataram Kuno) adalah hasil keturunan campuran darah Tarumanegara (Galuh) dan Kalingga. Keeratan Sunda Galuh dan Kalingga memang bisa dimengerti karena Tarumanegara bukanlah kerajaan agresor yang ingin menguasai wilayah selebar-lebarnya seperti Srivijaya ketika itu. 

Hubungan kekerabatan keturunan raja-raja Sunda dan jawa juga terus berlangsung sampai keera wangsa Isana (Empu Sendok). Di sini diceritakan bahwa Raja Sunda terkenal Prabu Sri Jaya Bhupati menikah dengan puteri kerajaan Medang (Dharmawangsa) dari jawa timur adik iparnya Airlangga. Prabu Sri Jaya Bhupati sendiri adalah keturunan campuran darah ningrat Sunda dan Srivijaya. Ketika Medang diserang habis-habisan oleh Srivijaya maka Jaya Bhupati diceritakan dalam posisi sulit dan dilemma dan sebab  itu bersikap netral karena disatu pihak dia punya separo garis keturunan dari Srivijaya dan dipihak lain isterinya adalah keturunan Raja Medang ketika itu. Kerajaan Sunda ketika terjadi perang yang sering terjadi berkali-kali antara Srivijaya dan kerajaan di tanah Jawa selalu mengambil sikap netral dan berusaha menjalin kekerabatan baik dengan Srivijaya maupun dengan kerajaan Jawa. 

Raden Wijaya sendiri yaitu pendiri kerajaan besar Majapahit menurut sumber merupakan darah campuran antara keturunan raja Sunda dengan keturunan Ken Arok Sang pendiri Singosari. Perkawinan kerabat raja Sunda dengan keturunan Singosari tentu dimaksud untuk simbol persahabatan kedua kerajaan yang juga pernah dilakukan Kerajaan Sunda terhadap Kerajaan Medang, Kalingga dan Srivijaya. Tetapi khusus tentang pernyataan bahwa Raden Wijaya adalah separo Sunda banyak disangkal ahli sejarah khususnya mereka yang mempercayai seratus persen kitab Nagarakartagama karangan Empu prapanca. Alasanya karena NagaraKartagama ditulis belum lama setelah Raden Wijaya wafat dan diperkuat oleh prasasti lainnya. Dalam Nagarakartagama dituliskan bahwa Dyah Lembu Tal yang dalam versi ahli yang mempercayai Raden Wijaya punya darah keturunan kerajaan Sunda disebutkan sebagai Ibu dari Raden Wijaya ternyata dalam Nagarakertagama disebutkan Lembu Tal ini adalah laki-laki yang tidak lain ayahnya Raden Wijaya (bukan Ibu) dan ibunya Raden Wijaya sendiri malah tidak disebut-sebut dalam nagarakartagama.

Saya sendiri belum mempercayai Nagarakartagama sepenuhnya sebagai tulisan jujur, jadi masih lebih meyakini Lembu Tal itu ibunya Raden wijaya dan punya keterkaitan keturunan dengan keluarga Raja-raja Sunda. Negarakertagama sebagai karya tulis jelas didedikasikan untuk puja-puji kebesaran Majapahit dan Raja-rajanya dan menyembunyikan borok didalamnya. Itulah sebabnya Nagarakartagama tidak pernah menyinggung lebih dalam lagi leluhur raja-raja majapahit yaitu mulai dari pertempuran berdarah dan perebutan kekuasaan dari sejak Ken Arok – Tunggul Ametung sampai keanak cucunya. Demikian pula walau Bubat disinggung dalam Nagarakertagama tapi perang Bubat antara Pajajaran dan Majapahit yang menyebabkan matinya calon penganten dan calon mertua Hayam Wuruk dari kerajaan Sunda tidak disinggung sama sekali. 

Penyebutan Lembu Tal sebagai ayah Raden Wijaya ada kemungkinan karena  untuk menghindarkan pertentangan garis keturunan dalam dinasti Ken Arok mengingat dinasti ini sepanjang sejarahnya sangat sarat dengan perang keluarga dan pembunuhan yang berkaitan dengan tahta dan keturunan. Penyebutan ayah Raden Wijaya adalah seorang lelaki keturunan kerajaan Sunda mungkin bisa menjadi pemicu untuk menghasut keturunan lain berontak. Tapi memang perlu diakui tidak ada yang pasti dalam mengungkap status asal usul Raden Wijaya ini sehingga memerlukan penelitian lebih lanjut. 

Kembali kepada pertanyaan Siapa itu orang Sunda dan siapa Orang Jawa, maka dari rentetan cerita diatas saya berkesimpulan mereka sebenarnya satu kerabat dekat yang memiliki tali persaudaraan, punya kesamaan tradisi dan kepercayaan. Yang lebih mengejutkan lagi prsasti tentang Kerajaan Sunda pada jaman Raja Jaya Bhupati yang ditulis sekitar awal abad ke-11 diketemukan di Cibadak sukabumi, ternyata diulis dalam bahasa Jawa kuno. Ini member indikasi kuat bagi saya sebenarnya yang namanya bahasa kehidupan orang P. Jawa kuno adalah kurang lebih hampir sama dan cenderung dipengaruhi banyak oleh kata-kata dari bahasa India kuno. Pada perkembangannya karena pengaruh kekuasaan wialay kerajaan, maka antara Jawa Barat dan jawa belahan lainnya berubah kearah berbeda. Jawa-Barat hampir bisa dikatakan secara kontinyu dikuasai oleh kerajaan keturunan Tarumanegara dan pecahannya samapai era kerajaan islam terutama banten dan kesultanan Cirebon berdiri. Ini yang menyebabkan Jawa sebelah barat kemudian berkembang secara eksklusif baik dari segi bahasa maupun identitas kesukuan dan pada perkembangan sejarah modern kemudian mereka menamakan dirinya sebagai orang Sunda atau lebih tegas lagi berubah menjadi suku sunda karena memang dari dulunya merupakan masyarakakat dibawah langsung kerajaan Sunda. Kerajaan Tarumanegara, Sunda atau pajajaran walau satu ketika pernah menjadi kerajaan dibawah bayang-bayang kekuasaan Srivijaya, singosari ataupun Majapahit tapi tidak pernah secara langsung dikuasia atau disentuh kerajaan besar tersebut. 

Pertama karena kerajaan Sunda selalu menerapkan strategi hubungan baik dan kekeluargaan dengan kerajaan yang berusaha mencaploknya. Ini terbukti bahwa keturunan kerajaan Sunda banyak menikah dengan keturunan raja-raja Jawa dan Sumatera. Kedua, karena letak Jawa Barat adalah dipintu masuk antara Sumatera dan jawa maka kerajaan Sunda memiliki letak yang strategis. Srivijaya terlalu kuat disebelah barat untuk bisa ditundukan sepenuhnya oleh kerajaan jawa dan sebaliknya pula kerajaan jawa yang dalam perkembangannya lebih menjurus kewilayah timur (jawa timur) terlalu jauh untuk dijangkau dan dirundukan Srivijaya. Dengan demikian wilayah jawa barat merupakan wilayah yang tidak pernah sepenuhnya dan secara kontinu dijadikan pusat pemerintahan maupun kegiatan militer kerajaan Jawa, kecuali pada masa kerajaan Islam Demak yang menyerang Sunda Kelapa dan membangun pertahanan disitu. Inilah yang menyebabkan wilayah Jawa-Barat relatif  tidak banyak tersentuh pengaruh budaya kerajaan kerajaan Jawa selain kerajaan Sunda. Dengan demikian dalam perkembangannya daerah jawa barat berubah menjadi pusat budaya dan bahasa yang berkembang kearahnya tersendiri. 

Sejurus dengan pengaruh retaknya hubungan Majapahit pajajaran akibat peran bubat pada abad ke-14 kemudian  munculnya era penyebaran kebudayaan Islam di Jawa yang dilanjutkan dengan lahirnya penjajahan barat, maka Jawa barat sudah renggang terpisah dari wilayah jawa lainnya dan berkembang sendiri mencari bentuknya sendiri. Maka dari situlah apa yang terlihat sekarang lahir perbedaan antara bahasa dan budaya Sunda dan non-Sunda di tanah Java Dvipa. Orang modern kemudian menyebut budaya Java warisan kerajaan Sunda disebut Jawa-sunda atau Sunda saja dan wilayah Jawa lainnya bekas kekuasaan Majapahit sebagai Jawa-Jawa atau Jawa saja. Majapahit tidak pernah mengganggu kerajaan Sunda bukan karena Majapahit takut Sunda tapi merupakan bentuk tanggung-jawab moral Hayam Wuruk terhadap masyarakat Sunda yang merasa prihatin tidak bisa mengatasi kesalah pahaaman atas terjadinya malapetaka Bubat dan tidak ingin mengingat-ingat kisah pahitnya dengan Dyah Pitaloka. Ini menunjukkan bahwa Hayam wuruk memang tidak bermaksud menciptakan perang Bubat demi kekuasaan. 

Source : Sulaeman H.

Sejarah Bandung

Mengenai asal-usul nama "Bandung", dikemukakan berbagai pendapat. Sebagian mengatakan bahwa, kata "Bandung" dalam bahasa Sunda, identik dengan kata "banding" dalam Bahasa Indonesia, berarti berdampingan. Ngabanding (Sunda) berarti berdampingan atau berdekatan. Hal ini antara lain dinyatakan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia terbitan Balai Pustaka (1994) dan Kamus Sunda-Indonesia terbitan Pustaka Setia (1996), bahwa kata bandung berarti berpasangan dan berarti pula berdampingan.

Pendapat lain mengatakan, bahwa kata "bandung" mengandung arti besar atau luas. Kata itu berasal dari kata bandeng. Dalam bahasa Sunda, ngabandeng berarti genangan air yang luas dan tampak tenang, namun terkesan menyeramkan. Diduga kata bandeng itu kemudian berubah bunyi menjadi Bandung. Ada pendapat lain yang menyatakan bahwa kata Bandung berasal dari kata bendung.

Pendapat-pendapat tentang asal dan arti kata Bandung, rupanya berkaitan dengan peristiwa terbendungnya aliran Sungai Citarum purba di daerah Padalarang oleh lahar Gunung Tangkuban Parahu yang meletus pada masa holosen (± 6000 tahun yang lalu).

Akibatnya, daerah antara Padalarang sampai Cicalengka (± 30 kilometer) dan daerah antara Gunung Tangkuban Parahu sampai Soreang (± 50 kilometer) terendam menjadi sebuah danau besar yang kemudian dikenal dengan sebutan Danau Bandung atau Danau Bandung Purba. Berdasarkan hasil penelitian geologi, air Danau Bandung diperkirakan mulai surut pada masa neolitikum (± 8000 - 7000 sebelum Masehi). Proses surutnya air danau itu berlangsung secara bertahap dalam waktu berabad-abad.

Secara historis, kata atau nama Bandung mulai dikenal sejak di daerah bekas danau tersebut berdiri pemerintah Kabupaten bandung (sekitar decade ketiga abad ke-17). Dengan demikian, sebutan Danau Bandung terhadap danau besar itu pun terjadi setelah berdirinya Kabupaten Bandung.

Berdirinya Kabupaten Bandung
Sebelum Kabupaten Bandung berdiri, daerah Bandung dikenal dengan sebutan "Tatar Ukur". Menurut naskah Sadjarah Bandung, sebelum Kabupaten Bandung berdiri, Tatar Ukur adalah termasuk daerah Kerajaan Timbanganten dengan ibukota Tegalluar. Kerajaan itu berada dibawah dominasi Kerajaan Sunda-Pajajaran. Sejak pertengahan abad ke-15, Kerajaan Timbanganten diperintah secara turun temurun oleh Prabu Pandaan Ukur, Dipati Agung, dan Dipati Ukur. Pada masa pemerintahan Dipati Ukur, Tatar Ukur merupakan suatu wilayah yang cukup luas, mencakup sebagian besar wilayah Jawa Barat, terdiri atas sembilan daerah yang disebut "Ukur Sasanga".

Setelah Kerajaan Sunda-Pajajaran runtuh (1579/1580) akibat gerakan Pasukan banten dalam usaha menyebarkan agama Islam di daerah Jawa Barat, Tatar Ukur menjadi wilayah kekuasaan Kerajaan Sumedanglarang, penerus Kerajaan Pajajaran. Kerajaan Sumedanglarang didirikan dan diperintah pertama kali oleh Prabu Geusan Ulun pada (1580-1608), dengan ibukota di Kutamaya, suatu tempat yang terletak sebelah Barat kota Sumedang sekarang. Wilayah kekuasaan kerajaan itu meliputi daerah yang kemudian disebut Priangan, kecuali daerah Galuh (sekarang bernama Ciamis).

Ketika Kerajaan Sumedang Larang diperintah oleh Raden Suriadiwangsa, anak tiri Geusan Ulun dari rtu Harisbaya, Sumedanglarang menjadi daerah kekuasaan Mataram sejak tahun 1620. Sejak itu status Sumedanglarang pun berubah dari kerajaan menjadi kabupaten dengan nama Kabupaten Sumedang. Mataram menjadikan Priangan sebagai daerah pertahanannya di bagian Barat terhadap kemungkinan serangan Pasukan Banten dan atau Kompeni yang berkedudukan di Batavia, karena Mataram di bawah pemerintahan Sultan Agung (1613-1645) bermusuhan dengan Kompeni dan konflik dengan Kesultanan Banten.

Untuk mengawasi wilayah Priangan, Sultan Agung mengangkat Raden Aria Suradiwangsa menjadi Bupati Wedana (Bupati Kepala) di Priangan (1620-1624), dengan gelar Pangeran Rangga Gempol Kusumadinata, terkenal dengan sebutan Rangga Gempol I.

Tahun 1624 Sultan agung memerintahkan Rangga Gempol I untuk menaklukkan daerah Sampang (Madura). Karenanya, jabatan Bupati Wedana Priangan diwakilkan kepada adik Rangga Gempol I pangeran Dipati Rangga Gede. Tidak lama setelah Pangeran Dipati Rangga Gede menjabat sebagai Bupati Wedana, Sumedang diserang oleh Pasukan Banten. Karena sebagian Pasukan Sumedang berangkat ke Sampang, Pangeran Dipati Rangga Gede tidak dapat mengatasi serangan tersebut. Akibatnya, ia menerima sanksi politis dari Sultan Agung. Pangeran Dipati Rangga Gede ditahan di Mataram. Jabatan Bupati Wedana Priangan diserahkan kepada Dipati Ukur, dengan syarat ia harus dapat merebut Batavia dari kekuasaan Kompeni.

Tahun 1628 Sultan Agung memerintahkan Dipati Ukur untuk membantu pasukan Mataram menyerang Kompeni di Batavia. Akan tetapi serangan itu mengalami kegagalan. Dipati Ukur menyadari bahwa sebagai konsekwensi dari kegagalan itu ia akan mendapat hukuman seperti yang diterima oleh Pangeran Dipati Rangga gede, atau hukuman yang lebih berat lagi. Oleh karena itu Dipati Ukur beserta para pengikutnya membangkang terhadap Mataram. Setelah penyerangan terhadap Kompeni gagal, mereka tidak datang ke Mataram melaporkan kegagalan tugasnya. Tindakan Dipati Ukur itu dianggap oleh pihak Mataram sebagai pemberontakan terhadap penguasa Kerajaan Mataram.

Terjadinya pembangkangan Dipati Ukur beserta para pengikutnya dimungkinkan, antara lain karena pihak Mataram sulit untuk mengawasi daerah Priangan secara langsung, akibat jauhnya jarak antara Pusat Kerajaan Mataram dengan daerah Priangan. Secara teoritis, bila daerah tersebut sangat jauh dari pusat kekuasaan, maka kekuasaan pusat di daerah itu sangat lemah. Walaupun demikian, berkat bantuan beberapa Kepala daerah di Priangan, pihak Mataram akhirnya dapat memadamkan pemberontakan Dipati Ukur. Menurut Sejarah Sumedang (babad), Dipati Ukur tertangkap di Gunung Lumbung (daerah Bandung) pada tahun 1632.

Setelah "pemberontakan" Dipati Ukur dianggap berakhir, Sultan Agung menyerahkan kembali jabatan Bupati Wedana Priangan kepada Pangeran Dipati Rangga Gede yang telah bebas dari hukumannya. Selain itu juga dilakukan reorganisasi pemerintahan di Priangan untuk menstabilkan situasi dan kondisi daerah tersebut. Daerah Priangan di luar Sumedang dan Galuh dibagi menjadi tiga kabupaten, yaitu Kabupaten Bandung, Kabupaten Parakanmuncang dan Kabupaten Sukapura dengan cara mengangkat tiga kepala daerah dari Priangan yang dianggap telah berjasa menumpas pemberontakan Dipati Ukur.

Ketiga orang kepala daerah dimaksud adalah Ki Astamanggala, umbul Cihaurbeuti diangkat menjadi mantri agung (bupati) Bandung dengan gelar Tumenggung Wiraangunangun, Tanubaya sebagai bupati Parakanmuncang dan Ngabehi Wirawangsa menjadi bupati Sukapura dengan gelar Tumenggung Wiradadaha. Ketiga orang itu dilantik secara bersamaan berdasarkan "Piagem Sultan Agung", yang dikeluarkan pada hari Sabtu tanggal 9 Muharam Tahun Alip (penanggalan Jawa). Dengan demikian, tanggal 9 Muharam Taun Alip bukan hanya merupakan hari jadi Kabupagten Bandung tetapi sekaligus sebagai hari jadi Kabupaten Sukapura dan Kabupaten Parakanmuncang.

Berdirinya Kabupaten Bandung, berarti di daerah Bandung terjadi perubahan terutama dalam bidang pemerintahan. Daerah yang semula merupakan bagian (bawahan) dari pemerintah kerajaan (Kerajaan Sunda-Pajararan kemudian Sumedanglarang) dengan status yang tidak jelas, berubah menjadi daerah dengan sttus administrative yang jelas, yaitu kabupaten.

Setelah ketiga bupati tersebut dilantik di pusat pemerintahan Mataram, mereka kembali ke daerah masing-masing. Sadjarah Bandung (naskah) menyebutkan bahwa Bupati Bandung Tumeggung Wiraangunangun beserta pengikutnya dari Mataram kembali ke Tatar Ukur. Pertama kali mereka dating ke Timbanganten. Di sana bupati Bandung mendapatkan 200 cacah. Selanjutnya Tumenanggung Wiraangunangun bersama rakyatnya membangun Krapyak, sebuah tempat yang terletak di tepi Sungat Citarum dekat muara Sungai Cikapundung, (daerah pinggiran Kabupaten Bandung bagian Selatan) sebagai ibukota kabupaten. Sebagai daerah pusat kabupaten Bandung, Krapyak dan daerah sekitarnya disebut Bumi kur Gede.

Wilayah administrative Kabupaten Bandung di bawah pengaruh Mataram (hingga akhir abad ke-17), belum diketahui secara pasti, karena sumber akurat yang memuat data tentang hal itu tidak/belum ditemukan. Menurut sumber pribumi, data tahap awal Kabupaten Bandung meliputi beberapa daerah antara lain Tatar Ukur, termasuk daerah Timbanganten, Kuripan, Sagaraherang, dan sebagian Tanahmedang.

Boleh jadi, daerah Priangan di luar Wilayah Kabupaten Sumedang, Parakanmuncang, Sukapura dan Galuh, yang semula merupakan wilayah Tatar Ukur (Ukur Sasanga) pada masa pemerintahan Dipati Ukur, merupakan wilayah administrative Kabupaten Bandung waktu itu. Bila dugaan ini benar, maka Kabupaten Bandung dengan ibukota Krapyak, wilayahnya mencakup daerah Timbanganten, Gandasoli, Adiarsa, Cabangbungin, Banjaran, Cipeujeuh, Majalaya, Cisondari, Rongga, Kopo, Ujungberung dan lain-lain, termasuk daerah Kuripan, Sagaraherang dan Tanahmedang.

Kabupaten Bandung sebagai salah satu Kabupaten yang dibentuk Pemerintah Kerajaan Mataram, dan berada di bawah pengaruh penguasa kerajaan tersebut, maka sistem pemerintahan Kabupaten Bandung memiliki sistem pemerintahan Mataram. Bupati memiliki berbagai jenis symbol kebesaran, pengawal khusus dan prajurit bersenjata. Simbol dan atribut itu menambah besar dan kuatnya kekuasaan serta pengaruh Bupti atas rakyatnya.

Besarnya kekuasaan dan pengaruh bupati, antara lain ditunjukkan oleh pemilikan hak-hak istimewa yang biasa dmiliki oleh raja. Hak-hak dimaksud adalah hak mewariskan jabatan, ha memungut pajak dalam bentuk uang dan barang, ha memperoleh tenaga kerja (ngawula), hak berburu dan menangkap ikan dan hak mengadili.

Dengan sangat terbatasnya pengawasan langsung dari penguasa Mataram, maka tidaklah heran apabila waktu itu Bupati Bandung khususnya dan Bupati Priangan umumnya berkuasa seperti raja. Ia berkuasa penuh atas rakyat dan daerahnya. Sistem pemerinatahn dan gaya hidup bupati merupakan miniatur dari kehidupan keraton. Dalam menjalankan tugasnya, bupati dibantu oleh pejabat-pejabat bawahannya, seperti patih, jaksa, penghulu, demang atau kepala cutak (kepala distrik), camat (pembantu kepala distrik), patinggi (lurah atau kepala desa) dan lain-lain.

Kabupaten Bandung berada dibawah pengaruh Mataram sampai akhir tahun 1677. Kemudian Kabupaten Bandung jatuh ketangan Kompeni. Hal itu terjadi akibat perjanjian Mataram-Kompeni (perjanjian pertama) tanggal 19-20 Oktober 1677. Di bawah kekuasaan Kompeni (1677-1799), Bupati Bandung dan Bupati lainnya di Priangan tetap berkedudukan sebagai penguasa tertinggi di kabupaten, tanpa ikatan birokrasi dengan Kompeni.

Sistem pemerintahan kabupaten pada dasarnya tidak mengalami perubahan, karena Kompeni hanya menuntut agar bupati mengakui kekuasaan Kompeni, dengan jaminan menjual hasil-hasil bumi tertentu kepada VOC. Dalam hal ini bupati tidak boleh mengadakan hubungan politik dan dagang dengan pihak lain. Satu hal yang berubah adalah jabatan bupati wedana dihilangkan. Sebagai gantinya, Kompeni mengangkat Pangeran Aria Cirebon sebagai pengawas (opzigter) daerah Cirebon-Priangan (Cheribonsche Preangerlandan).

Salah satu kewajiban utama bupati terhadap kompeni adalah melaksanakan penanaman wajib tanaman tertentu, terutama kopi, dan menyerahkan hasilnya. Sistem penanaman wajib itu disebut Preangerstelsel. Sementara itu bupati wajib memelihara keamanan dan ketertiban daerah kekuasaannya. Bupati juga tidak boleh mengangkat atau memecat pegawai bawahan bupati tanpa pertimbangan Bupati Kompeni atau penguasa Kompeni di Cirebon. Agar bupati dapat melaksanakan kewajiban yang disebut terakhir dengan baik, pengaruh bupati dalam bidang keagamaan, termasuk penghasilan dari bidang itu, seperti bagian zakar fitrah, tidak diganggu baik bupati maupun rakyat (petani) mendapat bayaran atas penyerahan kopi yang besarnya ditentukan oleh Kompeni.

Hingga berakhirnya kekuasaan Kompeni-VOC akhir tahun 1779, Kabupaten Bandung beribukota di Krapyak. Selama itu Kabupaten Bandung diperintah secara turun temurun oleh enam orang bupati. Tumenggung Wiraangunangun (merupakan bupati pertama) ankatan Mataram yang memerintah sampai tahun 1681. Lima bupati lainnya adalah bupati angkatan Kompeni yakni Tumenggung Ardikusumah yang memerintah tahun 1681-1704, Tumenggung Anggadireja I (1704-1747), Tumenggung Anggadireja II (1747-1763), R. Anggadireja III dengan gelar R.A. Wiranatakusumah I (1763-1794) dan R.A. Wiranatakusumah II yang memerintah dari tahun 1794 hingga tahun 1829. Pada masa pemerintahan bupati R.A. Wiranatakusumah II, ibukota Kabupaten Bandung dipindahkan dari Karapyak ke Kota Bandung.


Berdirinya Kota Bandung
Ketika Kabupaten Bandung dipimpin oleh Bupati RA Wiranatakusumah II, kekuasaan Kompeni di Nusantara berakhir akibat VOC bangkrut (Desember 1799). Kekuasaan di Nusantara selanjutnya diambil alih oleh Pemerintah Hindia Belanda dengan Gubernur Jenderal pertama Herman Willem Daendels (1808-1811).

Sejalan dengan perubahan kekuasaan di Hindia Belanda, situasi dan kondisi Kabupaten Bandung mengalami perubahan. Perubahan yang pertama kali terjadi adalah pemindahan ibukota kabupaten dari Krapyak di bagian Selatan daerah Bandung ke Kota Bandung yang ter;etak di bagian tengah wilayah kabupaten tersebut.

Antara Januari 1800 sampai akhir Desember 1807 di Nusantara umumnya dan di Pulau Jawa khususnya, terjadi vakum kekuasaan asing (penjajah), karena walaupun Gubernur Jenderal Kompeni masih ada, tetapi ia sudah tidak memiliki kekuasaan. Bagi para bupati, selama vakum kekuasaan itu berarti hilangnya beban berupa kewajiban-kewajiban yang harus dipenuhi bagi kepentingan penguasa asing (penjajah). Dengan demikian, mereka dapat mencurahkan perhatian bagi kepentingan pemerintahan daerah masing-masing. Hal ini kiranya terjadi pula di Kabupaten Bandung.

Menurut naskah Sadjarah Bandung, pada tahun 1809 Bupati Bandung Wiranatakusumah II beserta sejumlah rakyatnya pindah dari Karapyak ke daerah sebelah Utara dari lahan bakal ibukota. Pada waktu itu lahan bakal Kota Bandung masih berupa hutan, tetapi di sebelah utaranya sudah ada pemukiman, yaitu Kampung Cikapundung Kolot, Kampung Cikalintu, dan Kampung Bogor. Menurut naskah tersebut, Bupati R.A. Wiranatakusumah II pindah ke Kota Bandung setelah ia menetap di tempat tinggal sementara selama dua setengah tahun.

Semula bupati tinggal di Cikalintu (daerah Cipaganti) kemudian ia pindah Balubur Hilir. Ketika Deandels meresmikan pembangunan jembatan Cikapundung (jembatan di Jl. Asia Afrika dekat Gedung PLN sekarang), Bupati Bandung berada disana. Deandels bersama Bupati melewati jembatan itu kemudian mereka berjalan ke arah timur sampai disuatu tempat (depan Kantor Dinas PU Jl. Asia Afrika sekarang). Di tempat itu deandels menancapkan tongkat seraya berkata: "Zorg, dat als ik terug kom hier een stad is gebouwd!" (Usahakan, bila aku datang kembali ke sini, sebuah kota telah dibangun!". Rupanya Deandels menghendaki pusat kota Bandung dibangun di tempat itu.

Sebagai tindak lanjut dari ucapannya itu, Deandels meminta Bupati Bandung dan Parakanmuncang untuk memindahkan ibukota kabupaten masing-masing ke dekat Jalan Raya Pos. Permintaan Deandels itu disampaikan melalui surat tertanggal 25 Mei 1810.


Pindahnya Kabupaten Bandung ke Kota Bandung bersamaan dengan pengangkatan Raden Suria menjadi Patih Parakanmuncang. Kedua momentum tersebut dikukuhkan dengan besluit (surat keputusan) tanggal 25 September 1810. Tanggal ini juga merupakan tanggal Surat Keputusan (besluit), maka secara yuridis formal (dejure) ditetapkan sebagai Hari Jadi Kota Bandung.

Boleh jadi bupati mulai berkedudukan di Kota Bandung setelah di sana terlebih dahulu berdiri bangunan pendopo kabupaten. Dapat dipastikan pendopo kabupaten merupakan bangunan pertama yang dibangun untuk pusat kegiatan pemerintahan Kabupaten Bandung.

Berdasarkan data dari berbagai sumber, pembangunan Kota Bandung sepenuhnya dilakukan oleh sejumlah rakyat Bandung dibawah pimpinan Bupati R.A. Wiranatakusumah II. Oleh karena itu, dapatlah dikatakan bahwa bupati R.A. Wiranatakusumah II adalah pendiri (the founding father) kota Bandung.

Berkembangnya Kota Bandung dan letaknya yang strategis yang berada di bagian tengah Priangan, telah mendorong timbulnya gagasan Pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1856 untuk memindahkan Ibukota Keresiden priangan dari Cianjur ke Bandung. Gagasan tersebut karena berbagai hal baru direalisasikan pada tahun 1864. Berdasarkan Besluit Gubernur Jenderal tanggal 7 Agustus 1864 No.18, Kota Bandung ditetapkan sebagai pusat pemerintahan Keresidenan Priangan. Dengan demikian, sejak saat itu Kota Bandung memiliki fungsi ganda, yaitu sebagai Ibukota Kabupaten Bandung sekaligus sebagai ibukota Keresidenan Priangan. Pada waktu itu yang menjadi Bupati Bandung adalah R.A. Wiranatakusumah IV (1846-1874).

Sejalan dengan perkembangan fungsinya, di Kota Bandung dibangun gedung keresidenan di daerah Cicendo (sekarang menjadi Rumah Dinas Gubernur Jawa Barat) dan sebuah hotel pemerintah. Gedung keresidenan selesai dibangun tahun 1867.

Perkembangan Kota Bandung terjadi setelah beroperasi transportasi kereta api dari dan ke kota Bandung sejak tahun 1884. Karena Kota Bandung berfungsi sebagai pusat kegiatan transportasi kereta api "Lin Barat", maka telah mendorong berkembangnya kehidupan di Kota Bandung dengan meningkatnya penduduk dari tahun ke tahun.

Di penghujung abad ke-19, penduduk golongan Eropa jumlahnya sudah mencapai ribuan orang dan menuntut adanya lembaga otonom yang dapat mengurus kepentingan mereka. Sementara itu pemerintah pusat menyadari kegagalan pelaksanaan sistem pemerintahan sentralistis berikut dampaknya. Karenanya, pemerintah sampai pada kebijakan untuk mengganti sistem pemerintahan dengan sistem desentralisasi, bukan hanya desentralisasi dalam bidang keuangan, tetapi juga desentralisasi dalam pemberian hak otonomi bidang pemerintahan (zelfbestuur)


Dalam hal ini, pemerintah Kabupaten Bandung di bawah pimpinan Bupati RAA Martanagara (1893-1918) menyambut baik gagasan pemerintah kolonial tersebut. Berlangsungnya pemerintahan otonomi di Kota Bandung, berarti pemerintah kabupaten mendapat dana budget khusus dari pemerintah kolonial yang sebelumnya tidak pernah ada.

Berdasarkan Undang-undang Desentralisasi (Decentralisatiewet) yang dikeluarkan tahun 1903 dan Surat Keputusan tentang desentralisasi (Decentralisasi Besluit) serta Ordonansi Dewan Lokal (Locale Raden Ordonantie) sejak tanggal 1 April 1906 ditetapkan sebagai gemeente (kotapraja) yang berpemerintahan otonomom. Ketetapan itu semakin memperkuat fungsi Kota Bandung sebagai pusat pemerintahan, terutama pemerintahan Kolonial Belanda di Kota Bandung. Semula Gemeente Bandung Dipimpin oleh Asisten Residen priangan selaku Ketua Dewan Kota (Gemeenteraad), tetapi sejak tahun 1913 gemeente dipimpin oleh burgemeester (walikota).


Oleh: A. Sobana Hardjasaputra

Sejarah Garut

300px-COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Monumentale_trap_naar_bordes_van_het_sanatorium_te_Garoet._TMnr_60002524

Pada tanggal 16 Pebruari 1813, Letnan Gubernur di Indonesia yang pada waktu itu dijabat oleh Raffles, telah mengeluarkan Surat Keputusan tentang Pembentukan Kabupaten Limbangan yang beribu kota di Suci. Untuk sebuah Kota Kabupaten, keberadaan Suci dinilai tidak memenuhi persyaratan sebab daerah tersebut kawasannya cukup sempit. 

Berkaitan dengan hal tersebut, Bupati Limbangan Adipati Adiwijaya (1813-1831) membentuk panitia untuk mencari tempat yang cocok bagi Ibu Kota Kabupaten. Pada awalnya, panitia menemukan Cumurah, sekitar 3 Km sebelah Timur Suci. Akan tetapi di tempat tersebut air bersih sulit diperoleh, maka daerah tersebut dibatalkan. Saat ini kampung tersebut dikenal dengan nama Kampung Pidayeuheun. Selanjutnya panitia mencari lokasi ke arah Barat Suci, sekitar 5 Km dan mendapatkan tempat yang cocok untuk dijadikan Ibu Kota. Selain tanahnya subur, tempat tersebut memiliki mata air yang mengalir ke Sungai Cimanuk serta pemandangannya indah dikelilingi gunung, seperti Gunung Cikuray, Gunung Papandayan, Gunung Guntur, Gunung Galunggung, Gunung Talaga Bodas dan Gunung Karacak. 

Saat ditemukan mata air berupa telaga kecil yang tertutup semak belukar berduri, Marantha seorang panitia “kakarut” atau tergores tangannya sampai berdarah. Dalam rombongan panitia, turut pula seorang Eropa yang ikut membenahi atau “ngabaladah” tempat tersebut. Begitu melihat tangan salah seorang panitia tersebut berdarah, langsung bertanya: “Mengapa berdarah?” Orang yang tergores menjawab, tangannya kakarut. Orang Eropa atau Belanda tersebut menirukan kata kakarut dengan lidah yang tidak fasih sehingga sebutannya menjadi “gagarut”. 

garut2
Sejak saat itu, para pekerja dalam rombongan panitia menamai tanaman berduri dengan sebutan “Ki Garut” dan telaganya dinamai “Ci Garut”. Dengan ditemukannya Ci Garut, daerah sekitar itu dikenal dengan nama Garut. Cetusan nama Garut tersebut direstui oleh Bupati Kabupaten Limbangan Adipati Adiwijaya untuk dijadikan Ibu Kota Kabupaten Limbangan. 

mesjid agung garut

Pada tanggal 15 September 1813 dilakukan peletakkan batu pertama pembangunan sarana dan prasarana ibukota, seperti tempat tinggal dan alun-alun. Di depan pendopo, antara alun-alun dengan pendopo terdapat “Babancong” tempat Bupati beserta pejabat pemerintahan lainnya menyampaikan pidato di depan publik. Setelah tempat-tempat tadi selesai dibangun, Ibu Kota Kabupaten Limbangan pindah dari Suci ke Garut sekitar Tahun 1821.

Berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Jenderal No: 60 tertanggal 7 Mei 1913, nama Kabupaten Limbangan diganti menjadi Kabupaten Garut dan beribu kota Garut pada tanggal 1 Juli 1913. Kota Garut pada saat itu meliputi tiga desa, yakni Desa Kota Kulon, Desa Kota Wetan, dan Desa Margawati. Kabupaten Garut meliputi Distrik-distrik Garut, Bayongbong, Cibatu, Tarogong, Leles, Balubur Limbangan, Cikajang, Bungbulang dan Pameungpeuk. 

Sesudah menjadi Kabupaten Garut, pada tanggal 14 Agustus 1925, berdasarkan keputusan Gubernur Jenderal, Kabupaten Garut disahkan menjadi daerah pemerintahan yang berdiri sendiri (otonom). Wewenang yang bersifat otonom berhak dijalankan Kabupaten Garut dalam beberapa hal, yakni berhubungan dengan masalah pemeliharaan jalan-jalan, jembatan-jembatan, kebersihan, dan poliklinik. Selama periode 1930-1942, Bupati yang menjabat di Kabupaten Garut adalah Adipati Moh. Musa Suria Kartalegawa. Ia diangkat menjadi Bupati Kabupaten Garut pada tahun 1929 menggantikan ayahnya Adipati Suria Karta Legawa (1915-1929). 

Bupati yang menurunkan jabatannya secara langsung diantaranya Adipati Adiwijaya (1813-1831) kepada puteranya, Adipati Kusumadinata (1831-1833) dan Adipati Suria Kartalegawa (1915-1929) kepada puteranya Adipati Moh. Suria Kartalegawa (1929-1944), sedangkan bupati yang tidak langsung diantaranya Adipati Kusumadinata (1831-1833) diganti oleh menantunya , Tumenggung Jayadiningrat (1833-1871) dan Adipati Aria Wiratanudatar (1871-19150 diganti oleh keponakannya, Adipati Suria Karta Legawa (1915-1929). 

PERKEMBANGAN FISIK KOTA
Sampai tahun 1960-an, perkembangan fisik Kota Garut dibagi menjadi tiga periode, yakni pertama (1813-1920) berkembang secara linear. Pada masa itu di Kota Garut banyak didirikan bangunan oleh Pemerintah Kolonial Belanda untuk kepentingan pemerintahan, berinvestasi dalam usaha perkebunan, penggalian sumber mineral dan objek wisata. Pembangunan pemukiman penduduk, terutama disekitar alun-alun dan memanjang ke arah Timur sepanjang jalan Societeit Straat. 

Periode ke dua (1920-1940), Kota Garut berkembang secara konsentris. Perubahan itu terjadi karena pada periode pertama diberikan proyek pelayanan bagi penduduk. Wajah tatakota mulai berubah dengan berdirinya beberapa fasilitas kota, seperti stasiun kereta api, kantor pos, apotek, sekolah, hotel, pertokoan (milik orang Cina, Jepang, India dan Eropa) serta pasar.

Periode ketiga (1940-1960-an), perkembangan Kota Garut cenderung mengikuti teori inti berganda. Perkembangan ini bisa dilihat pada zona-zona perdagangan, pendidikan, pemukiman dan pertumbuhan penduduk. 

KEADAAN UMUM KOTA
Pada awal abad ke-20, Kota Garut mengacu pada pola masyarakat yang heterogen sebagai akibat arus urbanisasi. Keanekaragaman masyarakat dan pertumbuhan Kota Garut erat kaitannya dengan usaha-usaha perkebunan dan objek wisata di daerah Garut. 

Orang Belanda yang berjasa dalam pembangunan perkebunan dan pertanian di daerah Garut adalah K.F Holle. Untuk mengenang jasa-jasanya, pemerintah Kolonial Belanda mengabadikan nama Holle menjadi sebuah jalan di Kota Garut, yakni jalan Holle (Jl.Mandalagiri) dan membuat patung setengah dada Holle di Alun-alun Garut. 

garut_panorama


Pembukaan perkebunan-perkebunan tersebut diikuti pula dengan pembangunan hotel-hotel pada Tahun 1917. Hotel-hotel tersebut merupakan tempat menginap dan hiburan bagi para pegawai perkebunan atau wisatawan yang datang dari luar negeri. Hotel-hotel di Kota Garut , yaitu Hotel Papandayan, Hotel Villa Dolce, Hotel Belvedere, dan Hotel Van Hengel. 

Di luar Kota Garut terdapat Hotel Ngamplang di Cilawu, Hotel Cisurupan di Cisurupan, Hotel Melayu di Tarogong, Hotel Bagendit di Banyuresmi, Hotel Kamojang di Samarang dan Hotel Cilauteureun di Pameungpeuk. Berita tentang Indahnya Kota Garut tersebar ke seluruh dunia, yang menjadikan Kota Garut sebagai tempat pariwisata. 

1ngamplang1

ToMe…
Garut Is Green… ^^

Relikui GeForce

Hmmmmh____

Bagaimana kabarmu ?

Aku selalu berharap hari ini, esok, lusa dan hari-hari yang akan datang kau slealu ada dalam lindungan Alloh SWT_Aminn.

Entah harus sampai kapan aku dirudungi oleh wajahmu, kau seakan akan menjelma dan menyatu dengan jiwaku, sehingga kemanapun dan dimanapun ronamu selalu menyertaiku.

Jujur saja selama ini asa tak bisa mengelak untuk mengatakan aku sayang kepadamu namun aku kalah dengan ketakutan sehingga semua itu hanya menjadi angan-angan belaka. Maafkan aku jika selama ini aku sepertinya berubah bagimu, biarlah sifatku yang berubah asal jangan cintaku yang berubah. bagaimanapun aku tetap sayang pada kamu, meski kau tak tahu akan hal itu, perlu kau ketahui satuhal dariku, bahwa aku seperti ini karena kekuatan asaku terhadapmu, aku menjadi orang lain bagimu, aku seakan-akan tak mengenalmu. aku tahu aku salah, aku terlalu egois_Untuk itu kupersembahkan sebuah maafku teruntukmu jika selama ini aku pernah membuatmu marah atau bertanya-tanya.

Tak terasa waktu begitu cepat melaju, dapat dihitung dengan jari kapan kita akan berpisah, meski bagaimanapun tetap kita akan pisah.

Aku harap kau tak buang aku sebagai sahabat. Aku yakin kau akan selalu berhasil untuk meraih semua keinginanmu dan harapanmu. Rasanya tidak enak jika aku bersikap terus menerus seperti itu, makanya kutulis ini, aku harap agar kau maklum adanya meski kau tak menginginkannya. aku tahu aku tak pantas bagimu, aku tak sepadan denganm mu, cantik, pintar, baik dan lugu, karena itulah yang membuatku sayang padamu.

Aku harap setelah kau baca tulisan ini kau tak marah padaku ataupun benci meskipun kau tak menginginkan tulisan ini, namun biarkanlah karena ini urusan hati, siapapun pasti kan pernah merasakannya, begitu juga kau.

Aku tak mau jika tulisan ini menjadi pemisah kita, tujuan tulisan ini agar kau dapat memaafkan dan memaklumi perasaanku. Sekali lagi aku minta maaf, jaga dirimu, jangan sampai ada orang yang menyakitimu, karena sakitmu adalah sakitku.

 

image


Sampai Jumpa Di Jalan ‘Sesama’_____

Bandung, 30 November 2010

 

SAHABATMU

About SomeOne

Entah kapan....

 

kau...

hadir begitu saja...

secara tiba_tiba....

awalnya ku tak berharap kau ada di kehidupanku....

 

Tapi, seiring berjalanya waktu....

ku lihat...

kau itu...

Sosok makhluk aneh....

Menghantui kehidupan ku

Hadir dalam setiap mimpiku

wajahmu selalu terlukis di air wudhuku,

Entah mengapa begitu magis, kharisma mu....

 

Padahal, Dulu...

Hidupku itu selalu sendiri,

Tanpa ada kau di SiSiku....

Rasanya biaSa Saja....

 

Semenjak langkah kakiku melangkahi kehidupanmu...

I so Always Miss You....

 

image

Bandung, Non Date